Cara Mengajar yang Efektif

Cara Mengajar yang Efektif

 

Ilustrasi

Ketika mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Dalam buku Educational Psychology oleh W John Santrock pada tahun 2004, hal yang dibutuhkan dua hal utama yaitu: (1) Pengetahuan dan keahlian profesional; (2) komitmen dan motivasi.

 

PENGETAHUAN DAN KEAHLIAN PROFFESIONAL

 

Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengejaran yang baik dab didukung oleh metode penetapan tujuan, perencanaan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari berbagai latar belakang kultural. Mereka juga mengetahui cara menggunakan teknologi yang tepat guna di dalam kelas. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari beberapa kriteria di atas.

 

1. Penguasaan materi pelajaran

Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi. Tentu saja, pengetahuan subjek materi tidak hanya mencakup fakta, istilah, dan konsep umum. Ini juga membutuhkan pengetahuan dasar pengorganisasian materi, mengkaitkan berbagai gagasan, cara berpikir dan berargumentasi.

 

2. Strategi Pengajaran

Dalam hal ini bagaimana guru dapat membuat pengajaran materi dapat dikuasai oleh murid. Pada pendidikan model lama (tradisional) terlalu menekankan murid harus duduk diam, menjadi pendengar pasif dan menyuruh murid untuk menghafal informasi yang relevan dan tidak relevan. Kemudian berganti pada prinsip konstruktivisme, yaitu menekankan agar murid secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahamannya. Namun tidak semua ahli setuju dengan cara di atas, tetapi yang terpenting adalah walaupun anda menggunakan salah satu strategi di atas, masih banyak hal yang harus diketahui, hal-hal yang memberikan pengaruh dalam pengajaran yang efektif.

 

3. Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional

Guru yang efektif tidak sekadar mengajar di kelas, entah dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivisme di atas. Mereka juga harus menentukan tujuan pembelajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.

 

4. Keahlian manajemen kelas

Aspek penting lainnya untuk menjadi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif dapat mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.

 

5. Keahlian motivasional

Guru yang efektif mempunyai strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar. Guru yang efektif tahu bahwa murid akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Guru yang baik akan memberi kesempatan murid untuk berpikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.

 

6. Keahlian komunikasi

Hal yang perlu diperlukan untuk mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi non verbal dari murid, dan memapu memecahkan konflik secara konstruktif.

 

7. Bekerja secara efektif dengan murid dari berbagai kultur yang berbeda

Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Mendorong murid satu dengan murid yang lain untuk berhubungan positif.

 

8. Keahlian teknologi

Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid perlu kesesuaian antara kurikulum dengan teknologi yang sesuai dalam pengajaran.

 

KOMITMEN DAN MOTIVASI

 

Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid. Komitmen sangat dibutuhkan dalam pengajaran, bagaimana guru memberikan tenaga dan pikiran untuk memberikan pengajaran yang dapat diterima oleh murid dengan baik. Guru yang efektif juga mempunyai kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi mereka

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

INSPIRASI(Agama, Modernisasi, dan Teori Kritis: Sebuah Potret Pertautan)

Agama, Modernisasi, dan Teori
Kritis: Sebuah Potret Pertautan

Prihatanto
Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya, Jakarta

Abstract
In the discourses of contemporary social and humanitarian sciences, Jurgen Habermas cannot
be ignored. His works have been influential not only in social sciences and philosophy, but also
in other sciences, including theology. In this context, theology of every religion may be completed
based on The Habermas paradigm, namely the theory of Communicative Action. This effort
should be done as a dialog between theology and the development of contemporary sciences, so
that theological statements can be expressed communicatively to the present peoples. Through
the assistance of critical theories, religious institution together with theological apparatus should
not be alienated from the experience of modern people. Theology should be as such communicative
that it is reasonable for its proponents.

Keywords: Modern People, Science,
Theology

Keberlakuan universal sebuah ajaran
moral harus merupakan kesepakatan
bersama anggota masyarakat. Dengan kata
lain, ajaran moral dalam setiap institusi
agama adalah benar jika bisa digeneralisasikan.
Menggeneralisasikan ajaran
berarti memperlihatkan bahwa ajaran itu
berlaku untuk semua orang (universal). Ini
berarti jika bisa ditunjukkan bahwa suatu
ajaran bersifat umum, ajaran itu sah sebagai
ajaran moral. Institusi agama sebagai
sebuah komunitas sangat memerlukan
suatu proses diskursus. Karenanya, agama
dan perangkat teologinya memerlukan
suatu prosedur yang disediakan oleh teori
kritis Habermas, dengan perhatian pada
suatu tindakan komunikatif. Teori tindakan
komunikatif ini merupakan prosedur yang
layak bagi pembenaran suatu norma moral
setiap institusi agama dalam situasi
masyarakat modern yang pluralistik. Apabila
hendak dipastikan apakah sebuah norma
memang mengikat secara universal, maka
harus diadakan diskursus antara semua
yang tersangkut, secara bebas dari tekanan,
dengan kesediaan untuk hanya memberlakukan
norma yang betul-betul berlaku universal
dalam masyarakat pluralistik.
Keberlakuan universal norma-norma harus
dipastikan secara diskursif.
Teori Kritis Jürgen Habermas
Dalam teori tindakan komunikatif,
Habermas menyatakan bahwa tindakan
manusia yang paling dasar adalah tindakan
komunikatif atau interaksi. Tujuan komunikasi
adalah saling pengertian. Habermas
membedakan dua tindakan, yaitu tindakan
demi sasaran dan demi pemahaman.
Tindakan demi sasaran dibagi lagi menjadi
tindakan strategis (diarahkan pada manusia)
dan instrumental (diarahkan pada alam).
Tindakan demi pemahaman dapat ditemukan
secara khas dalam komunikasi antar
manusia. Tindakan demi pemahaman ini
bukan monologis, tapi dialogis. Habermas
menyatakan bahwa dalam tindakan komunikatif
ini terjadi suatu “ideal role taking”.
Menurut Habermas, dalam komunikasi
itu para partisipan ingin membuat mitra
bicaranya memahami maksudnya dengan
berusaha mencapai apa yang disebutnya
‘klaim-klaim kesahihan’. Supaya komunikasi
dapat berhasil, maka orang harus
berbicara dengan jelas, benar, jujur dan
tepat, sehingga hubungan antar manusia
yang betul-betul rasional dan bebas tetap
dapat berlangsung.
Masyarakat komunikatif di atas bukanlah
masyarakat yang melakukan kritik lewat
revolusi kekerasan, melainkan lewat
argumentasi demi konsensus. Namun
haruslah diingat bahwa konsensus
mendapatkan konteksnya dalam suatu
diskursus rasional. Konsensus harus tetap
terbuka untuk kritik dan pembaruan. Jika
konsensus diterima sebagai kata akhir,
maka komunikasi tidak lagi memainkan
peran pertukaran pendapat dan demokrasi.
Habermas menyediakannya dalam prosedur
etika diskursus. Norma-norma moral dalam
setiap agama yang semula dianggap benar,
tentunya harus tetap dipersoalkan
legitimasinya. Berbagai norma itu perlu
dipastikan kembali secara rasional. Hal ini
harus dihasilkan melalui suatu diskursus
secara rasional. Semua anggota menjadi
bebas dan sederajat, tanpa merasa terpaksa
atau dipaksa terlibat dalam pengambilan
keputusan bersama. Etika diskursus
bertujuan untuk memastikan kesahihan
suatu norma moral yang dipermasalahkan
sampai tercapai konsensus di antara
peserta. Tujuan ini dicapai lewat praktik
komunikasi. Dalam praktik komunikasi itu,
perhatian peserta diskursus dipusatkan
pada kehendak untuk mencapai konsensus
secara rasional. Kesahihan kemudian dapat
dipastikan dan diperoleh lewat pertukaran
argumentasi rasional dalam diskursus.
Menurut Habermas, lewat pertukaran
pendapat antara anggota masyarakat,
tercapailah suatu konsensus bersama.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa semua
anggota masyarakat bukanlah penonton
pasif. Yang dikehendaki dalam diskursus
adalah anggota masyarakat secara aktif
menyatakan perannya dalam kata dan
tindakan demi suatu konsensus bersama.
Dengan kata lain, mengacu pada Habermas,
kelompok sosial (termasuk institusi agama)
yang mampu bertahan dalam era globalisasi
kini hanyalah organisasi sosial yang ada
berdasarkan komunikasi timbal balik
dengan menghargai kebebasan dan
kesamaan derajat masing-masing anggota.
Kita melihat bahwa dalam suatu komunikasi
yang terbuka dan bebas, terdapat jaminan
bahwa manusia dapat mempertahankan
sebuah ruang yang bebas dari pemaksaan.
Dengan demikian, tepatlah kalau setiap
institusi agama (yang merasa berkepentingan
pada pembelaan masyarakat yang
terbuka, bebas dan menghormati martabat
manusia), mengikuti gagasan Habermas itu
melalui “rasio komunikatif”.
Peranan Teori Kritis untuk Ajaran
Moral dalam Agama
Ajaran moral dalam setiap agama
secara sederhana dapat dipahami sebagai
dialog agama dengan modernitas. Ajaran
moral dalam setiap agama kerap mempunyai
pengaruh cukup besar, tapi kerap juga
mempunyai beberapa kelemahan, antara
lain: masalah penafsiran, inkonsistensi
antara teori dan praktik, kurangnya teori
sosial serta keterbatasan kitab suci. Para
teolog dari setiap agama de facto kerap
mencari jawaban dalam dan lewat kitab
suci. Padahal, tidak semua permasalahan
sosial-moral di dunia dapat dijawab lewat
dan dalam kitab suci. De facto, agama
kontemporer saat ini harus berhadapan
dengan pelbagai implikasi zaman, misalnya
perang nuklir, clonning, dan berbagai
kemajuan iptek. Kitab suci tidak lagi menjadi
satu-satunya jawaban final bagi berbagai
permasalahan manusia. Dengan kata lain,
berbagai prinsip moral yang diajarkan oleh
setiap agama baru menjadi nyata, jika
dalam institusi agama sendiri konflik-konflik
tidak lagi diselesaikan menurut “garis kuasa
suci” dari atas (entah bernama hirarki, entah
dewan syuro, dan sebagainya), tapi mulai
digumuli dengan menghargai orang lain dan
pendapatnya. Berangkat dari kesadaran
perlunya saling pemahaman dalam setiap
institusi agama, teori tindakan komunikatif
Habermas dapat melengkapi ajaran moral
setiap agama dengan perhatiannya pada
kepentingan emansipatoris masyarakat.
Segala pertimbangan, kritik dan
pemikiran timbal balik sangat diperlukan
untuk mencari kesepahaman dan kebenaran
suatu ajaran sosial-moral dalam setiap
agama. Berbagai ajaran moral dalam agama
seharusnya terus menerus dipertimbangkan
dan dicari kebenarannya secara bersama.
Ini mengandaikan bahwa para tokoh agama
mengakui keberadaan mitra bicaranya apa
adanya, sehingga pesan profetis agama
kepada dunia tidak tampak kaku, berlebihan
dan tidak akan diremehkan oleh masyarakat.
Dalam setiap agama, perangkat teologi
sebagai ilmu, muncul dalam hubungan
antara obyek (teks), konteks (dunia) dan
penafsir (teolog). Teologi kerap memiliki
problem hermeneutik (berada dalam
ancaman perangkap pikiran deduktif dan
apriori). Para penafsir (teolog) bersifat aktif
dalam hubungannya dengan obyek (teks)
yang diketahui. Pada saat yang sama, para
teolog itu dalam arti tertentu merupakan
‘obyek-obyek’ bagi dunia mereka, karena
mereka dibentuk oleh konteks kebudayaan/
lingkungan.Oleh karena itu, teologi
memerlukan pengujian dengan menggunakan
hermeneutik kritis dan tunduk pada
rasionalitas.
Hermeneutik kritis dan rasionalitas ini
disediakan oleh teori kritis Habermas,
dengan analisis utamanya pada bahasa.
Kita sadar akan kerapuhan bahasa manusia
untuk menafsir dan mengkomunikasikan
buah pikirannya, maka kita perlu membuat
reinterpretasi terhadap proses komunikasi
yang selama ini dipakai dalam berteologi.
Reinterpretasi tersebut dapat dilakukan
dengan bantuan teori kritis Habermas, yang
sangat menghargai terjadinya kelancaran
bahasa antar perseorangan yang bebas.
Teori kritis sungguh-sungguh berguna
sebagai sebuah mediasi bagi teologi.
Teologi sendiri adalah peralatan ilmiah
(ilmiah mengandung arti pengetahuan yang
tepat, kritis dan rasional) untuk melihat
kenyataan yang disebut “institusi agama”.
Karena institusi agama dan dunia harus
secara aktual saling berhubungan dengan
tepat, maka pendekatan kritis perlu
dilakukan sehingga dapat membantu setiap
agama dalam tugas syiarnya di dunia.
Di lain pihak, kalau pendekatan kritis
tidak dilakukan, justru institusi agama dapat
berubah menjadi sedemikian mutlak dan
tidak lagi menghargai dunia. Sebaliknya,
dunia juga dapat menjadi sedemikian
mutlak dan menolak makna yang disampaikan
oleh setiap agama kepadanya. Oleh
karena itu, hubungan timbal balik yang tepat
dari pelbagai disiplin ilmiah untuk menyoroti
dunia dan agama merupakan sesuatu yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pentingnya
hubungan timbal balik ini menghadapkan
teologi dengan filsafat, khususnya teori kritis
sebagai sarana untuk memahami dunia
secara memadai. Bila yang ingin kita ketahui
adalah hubungan agama dengan masyarakat
dan berbagai permasalahannya, kita
jangan mengambil pengetahuan sederhana
tentang masyarakat sebagai titik tolak kita,
karena pengetahuan semacam itu sudah
diresapi oleh ideologi yang berlaku dalam
masyarakat itu. Kita harus mengambil
pemikiran kritis dan analitis yang dapat
menjelaskan hubungan sebab akibat,
dinamisme dan berbagai kekuatan yang
bekerja dalam masyarakat sebagai titik tolak
kita. Pemikiran kritis ini disediakan oleh
teori kritis Habermas, dengan etika komunikatifnya.
Dengan kata lain, teori kritis bisa
menyingkapkan berbagai faktor kunci yang
menjelaskan fakta sosial dan memungkinkannya
untuk memberikan pelbagai diagnosis
untuk mengatasi berbagai permasalahan
dalam masyarakat dan agama. Perhatian
setiap agama terhadap suatu praksis
komunikatif, sebagai sebuah perhatian yang
sungguh tidak mengada-ada bilamana
agama memang mau tetap diperhitungkan
dalam kehidupan pascamodernitas ini.
Tradisi, Teologi dan Diskursus
Tradisi adalah kategori penting dalam
pemikiran setiap agama yang meneruskan
pewartaan para nabi/rasul. Tradisi menyangkut
iman dan moral, yang berkaitan dengan
ilmu teologi. Jika agama ingin maju, tradisi
harus terus diinterpretasi dan direfleksikan
sesuai dengan zamannya. Interpretasi dan
refleksi atas warisan tradisi ini harus terjadi
dalam suatu proses diskursus rasional dan
terbuka. Diskursus sendiri adalah pembicaraan
bersama untuk memastikan
kesahihan sebuah norma yang dipermasalahkan
untuk mencapai suatu konsensus
rasional. Proses diskursus atau pembicaraan
bersama demi suatu konsensus
rasional terhadap tradisi ini terjadi dalam
institusi agama, yang kenyataannya
tersusun atas berbagai orang dengan peran
yang berbeda-beda, sesuai dengan
kapasitasnya masing-masing.
Diskursus adalah pembicaraan bersama
untuk memastikan kesahihan sebuah
norma yang dipermasalahkan. Kita melakukan
diskursus kalau mengandaikan
kemungkinan untuk mencapai suatu
konsensus rasional. Teologi sendiri termasuk
dalam kategori diskursus teoretis karena
para teolog ingin mencapai konsensus atas
klaim kebenaran. Hal ini berarti bahwa
kebenaran dicapai melalui konsensuskonsensus
rasional lewat subyek-subyek
yang berkompeten. Karenanya, proses
argumentasi menjadi penting. Sebab lewat
proses argumentasi atau tukar pendapat
secara rasional, pelbagai klaim akan
validitas bisa diakui, diterima ataupun
ditolak.
Implikasi teori kritis Habermas jelas
yaitu semua teolog dan umat awam dalam
setiap agama dapat meneliti, mengajar,
menyebarkan serta mendiskusikan pelbagai
interpretasi doktrin, semuanya dalam
atmosfer yang bebas dominasi. Pelbagai
pernyataan para pemimpin agama yang
kerap disebut “karisma kebenaran yang
mutlak” perlu mempunyai pendasaran
ilmiah. Berbagai pernyataan mereka perlu
menjadi obyek diskursus rasional bagi
semua anggotanya. Hal ini tidak mengurangi
wibawa para pemimpin agama, tetapi
menandakan bahwa wewenang mereka
harus disalurkan melalui tindakan tuturan
dalam atmosfer tindakan komunikatif,
terutama dalam hal pembuatan keputusan
publik.
Tradisi dalam setiap agama patut
dihargai sebagai mitra refleksi yang terus
berkembang, bukan sebagai kebenaran
tunggal yang kekal abadi. Pengalaman
aktual-eksistensial setiap agama pada
zaman ini menjadi titik pijak untuk berdialog
dengan kitab suci dan tradisi. Keberagamaan
yang sesungguhnya berangkat
dari sebuah relasi antar pribadi, sebuah
komunitas komunikatif dengan bahasa
berdasar makna-makna utopis yang berpusat
pada tokoh (entah Sidharta Gautama,
Muhammad, Yesus orang Nazareth, dan
sebagainya), memerlukan mediasi dari teori
kritis Habermas
Atas dasar itu, tepatlah kalau pelbagai
pernyataan moral para pemimpin agama
harus selalu terbuka pada tanggapan kritis,
diskusi, koreksi dan ditampilkan sebagai
sebuah praksis komunikasi. Agama perlu
menciptakan lingkup kehidupan yang
memungkinkan mudahnya interaksi.
Interaksi yang berdasarkan saling pengertian
dan kaya akan kontak sosial. Pengambilan
keputusan publik dalam agama yang
melibatkan seluruh anggota masyarakat
sekurang-kurangnya rancangan keputusan
yang terbuka untuk kritik masyarakat –
malah menjadikan setiap pernyataan moral
agama itu lebih dapat diterima dan
dilaksanakan.
Etika Diskursus
Ajaran moral yang tepat dalam hidup
keseharian kita sebisa mungkin harus
menjawab sejumlah pertanyaan, yakni
apakah ajaran moral tersebut menyentuh
pengalaman keseharian, apakah ajaran
moral tersebut sungguh rasional dan dapat
dibuktikan, dan apakah ajaran moral
tersebut benar-benar dibuat secara tulus.
De facto, berbagai pernyataan moral
dalam setiap agama selama ini kerap dibuat
oleh kaum elitis (entah para klerus, kyai,
rahib-biksu). Padahal, bisa jadi mereka
kurang berwenang dan kurang mampu untuk
membuat pernyataan moral dalam multidimensi
kehidupan masyarakat, sehingga
kerap kurang menyentuh pengalaman hidup
keseharian. Berangkat dari fenomena di
atas, perlu adanya suatu diskursus moral
yang terbuka dan bebas bagi seluruh
anggota. Dalam diskursus moral, para ahli
etika (termasuk dari kaum awam/sekular)
harus menyumbangkan pemikiran mereka,
dan para pemimpin agama mendengarkan
semua argumentasi rasional mereka.
Pemimpin agama dapat menjadi pemegang
keputusan akhir yang resmi (semacam
hakim), setelah mendengarkan pembicaraan
bersama yang terjadi dalam diskursus
tersebut. Dengan demikian, ajaran moral dari
suatu agama yang ingin dinyatakan secara
publik haruslah melewati suatu jalur
argumentasi. Jalur argumentasi menawarkan
suatu tata sosial yang rasional, adil,
bebas serta terbuka. Argumentasi adalah
cara untuk mempertanggungjawabkan dan
memastikan rasionalitas berbagai pernyataan
moral tersebut. Praksisnya yaitu
dengan etika diskursus.
Berbagai pertanyaan moral tidak dapat
dijawab oleh agama dengan mengacu pada
tradisi dan kitab suci saja. Yang diperlukan
adalah memastikan kembali moralitas yang
dapat diyakini oleh semua anggotanya.
Dengan demikian, para pemimpin agama
dengan wewenang mengajarnya juga
memerlukan suatu konsensus yang berasal
dari diskursus rasional yang terbuka bagi
semua anggota, sehingga berbagai pernyataan
moralnya sungguh-sungguh berarti
banyak bagi masyarakat luas. Dalam situasi
ini, etika diskursus menjadi sarana untuk
menetapkan norma-norma moral yang
dapat diakui keberlakuannya oleh semua.
Etika diskursus Habermas merupakan
sarana refleksi sistematis yang layak untuk
memastikan keabsahan ajaran moral dalam
setiap agama. Norma-norma moral sahih
kalau sanggup disepakati oleh semua yang
tersangkut dalam sebuah diskursus.
Pertanyaan yang mau dijawab Habermas
lewat etika diskursus ini adalah
“Bagaimana pelbagai norma moral dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional?”
Baginya, hanya norma yang dapat diberlakukan
secara universal dapat dianggap
bersifat moral. Prinsip itu dirumuskannya
dalam prinsip Universalisasi (U). Berdasarkan
prinsip itu, norma menjadi sahih
hanya jika:
“semua pihak yang (mungkin akan)
terkena dampak kepatuhan umum atas
norma dapat menerima konsekuensi
dan efek sampingnya, yang diharapkan
dapat memenuhi kepentingan setiap
orang.”
Berdasarkan kutipan di atas, terdapat
ide dasar di balik prinsip Universalisasi (U)
yaitu pengandaian suatu kemauan dan
kemampuan untuk terlibat dalam upaya
memahami yang lain. Upaya untuk memahami
yang lain ini ditempuh setelah setiap
orang menjadi paham mengenai kepentingannya
dan mendapatkan kesempatan
yang sama untuk mengungkapkan hal itu.
Jika dalam proses itu dicapai sebuah
konsensus rasional, konsensus tersebut
harus diterima sebagai kepentingan umum
oleh semua pihak yang terlibat. Dasar
penerimaan sebuah norma sebagai kepentingan
umum terletak pada rasionalitas
kepentingan itu berhadapan dengan
kepentingan-kepentingan lain. Untuk
memastikan persetujuan itu, terdapat satu
cara, yakni diskursus. Diskursus sendiri
adalah pembicaraan bersama untuk
memastikan berbagai norma moral yang
dipermasalahkan. Prinsip diskursus (D)
Habermas berbunyi:
“Norma-norma dapat diklaim sebagai
sahih kalau mendapatkan persetujuan
dari semua peserta yang kemungkinan
terkena dampak dari norma itu dalam
suatu diskursus praktis”.
Dari prinsip di atas, dapat dikatakan
bahwa kesahihan sebuah norma yang
dipermasalahkan haruslah dipastikan lewat
diskursus oleh semua peserta yang
kemungkinan terkena dampak dari norma
itu. Norma moral baru menjadi sahih setelah
norma itu mendapatkan persetujuan dari
semua peserta diskursus. Metodenya
adalah praksis komunikasi, yang melibatkan
semua pihak yang tersangkut untuk
melakukan pembicaraan bersama dengan
kesempatan yang sama untuk mengemukakan
pendapat.
Mekanisme ini mengantar peserta
diskursus, yang tidak memiliki argumentasi
rasional yang memadai untuk mengakui
argumentasi rasional lain yang lebih
memadai. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa kesahihan sebuah norma bersifat
intersubyektif. Etika diskursus memberi
ruang untuk hubungan sosial, tempat semua
golongan saling berbaur, saling memperkaya,
saling menerima, dan saling
memahami perbedaan dalam suatu
semangat solidaritas.
Penutup
Menurut teori kritis, akal budi manusia
dewasa ini dapat berada dalam kemacetan
total. Hal ini disebabkan karena akal budi
itu kerap digunakan secara instrumental, dan
selalu mengorientasikan manusia untuk
mencapai hasil-hasil atau sasaran saja.
Itulah rasionalitas instrumental. Habermas
berpendapat, manusia bisa keluar dari
kemacetan itu, jika ia mau memalingkan
pemikirannya pada paradigma lain.
Paradigma lain itu, yakni paradigma
komunikasi manusia. Dalam paradigma
komunikasi terkandung potensi, di mana
manusia tidak diperbudak oleh hasrat untuk
menguasai. Tapi, manusia dituntun untuk
saling memahami dan mengerti.
Dengan demikian, semua pihak yang
terlibat dalam suatu tindakan komunikatif,
wajib mencari kesepahaman dan kebenaran
suatu ajaran moral lewat pertimbangan, kritik
dan pemikiran timbal balik. Ajaran moral itu
tidak begitu saja ada sejak semula, tetapi
terus menerus dipertimbangkan dan dicari
kebenarannya secara bersama. Hal ini
mengandaikan bahwa seseorang mengakui
keberadaan mitra bicaranya. Habermas
membuka perspektif lain, dengan suatu teori
tindakan komunikatif, di mana orang saling
mencari pengertian bersama (konsensus)
demi kepentingan bersama. Dalam suatu
pembicaraan bersama, orang harus bebas
dari aspek distortif bahasa (bebas dari aspek
ketidaktepatan bahasa). Bebas atau otonom
tidak hanya dalam arti bebas dari paksaan
eksternal atau manipulasi tetapi juga bebas
dari paksaan internal atau penipuan diri,
dalam upaya membangun konsensus
rasional atas norma. Dalam masyarakat
yang pluralistik seperti sekarang ini,
penetapan berbagai ajaran moral dan sosial
dalam setiap agama tidak dapat dikembalikan
begitu saja kepada para pemimpin
agama-entah dewan syuro, hirarki, dan lain
sebagainya (dalam bahasa Habermas:
Norma-norma moral itu tidak dapat lahir dari
tindakan strategis, melainkan hanya dari
tindakan komunikatif). Norma-norma moral
hanya dapat memperoleh status sebagai
sahih kalau sanggup disepakati oleh semua
pihak yang tersangkut dalam sebuah
diskursus. Maka, diskursus yang rasional,
terbuka, serta bebas dari dominasi perlu
terus ditingkatkan dalam setiap agama.
Pada kenyataannya, sudah sangat
jelas bahwa institusi agama dengan
perangkat teologi yang hanya berusaha
merumuskan kembali – secara metode dan
sistematis – rumusan dari tradisi, khususnya
kitab suci, tidak memenuhi syarat ilmiah
zaman sekarang. Teologi memang perlu
merumuskan kembali tradisi dalam rumusan
yang sesuai dengan bahasa orang sezamannya.
Teologi juga perlu melakukan
interdisiplinaritas dengan berbagai ilmu lain.
Adalah merupakan fakta bahwa dalam
masyarakat sekarang ini terdapat banyak
nilai yang berbeda, dan sering kali perbedaan
itu menjadi sumber disintegrasi sosial jika
tidak dicarikan suatu pemecahan yang
memuaskan bagi semua pihak. Di tengah
pluralitas pandangan, nilai dan kepentingan,
mekanisme teori kritis Habermas merupakan
jawaban telak atas konflik kepentingan.
Mekanisme ini mengajukan model
pemecahan yang ideal yang membiarkan
konflik terjadi dalam dinamika pertukaran
ide. Setiap orang merasa bebas dan
sederajat dalam berargumentasi untuk
posisinya, sampai suatu prinsip umum
ditetapkan bersama-sama demi kepentingan
bersama pula.
Mekanisme teori kritis Habermas yang
menekankan hubungan antar manusia yang
terbuka dan rasional sangat berguna bagi
perkembangan setiap institusi agama
sebagai sebuah masyarakat yang komunikatif.
Jika agama masih ingin berperan bagi
masyarakat modern, maka mereka tidak
dapat melampaui apalagi meniadakan upaya
yang rasional dan manusiawi ini.l
Daftar Pustaka
Deflem, M. (ed.), 1996, Habermas, Modernity
and Law, London: SAGE Publications
LTD.
______________ . 1991. Moral Consciousness
and Communicative Action.
Cambridge: The MIT Press.
Hardiman B. F. 1993. Kritik Ideologi:
Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan.
Yogyakarta: Kanisius.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

TEORI PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

 

Kota Nagasaki 1945 sebelum dan sesudah di jatuhkan bom atom, merupakan bentuk pembelajaran akibat dari Perang Dunia

Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman.[1] Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri.[1] Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati:

“              Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah “belajar” dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya[2].        ”

Daftar isi

1 Pembelajaran dalam dunia pendidikan

2 Teori pembelajaran

3 Prinsip-prinsip pembelajaran

3.1 Perhatian dan Motivasi

3.2 Keaktifan

3.3 Keterlibatan Langsung/Pengalaman

3.4 Pengulangan

3.5 Tantangan

3.6 Balikan dan Penguatan

3.7 Perbedaan Individual

4 Pengondisian klasik

5 Pengondisian operant

6 Pembelajaran sosial

7 Metode pembentukan perilaku

8 Lihat pula

9 Referensi

Pembelajaran dalam dunia pendidikan

 

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Teori pembelajaran

 

Tiga teori telah ditawarkan untuk menjelaskan proses di mana seseorang memperoleh pola perilaku, yaitu teori pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan pembelajaran sosial.[1]

Prinsip-prinsip pembelajaran

 

Berikut ini adalah prinsip umum pembelajaran yang penulis rangkum dari beberapa pakar pembelajaran yang meliputi:

Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan perhatian dan juga motivasi untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri siswa tidak ada perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut perlu dibangkitkan perhatiannya. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya, kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar mengenai apa yang dipelajari peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan; melihat masalah-masalah yang akan diberikan; memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasi untuk mempelajarinya. Misalnya, siswa yang menyukai pelajaran matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan

bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar;

berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut;

Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.

Motivasi dapat bersifat internal, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri peserta didik dan juga eksternal baik dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Berkenaan dengan prinsip motivasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, yaitu: memberikan dorongan, memberikan insentif dan juga motivasi berprestasi.

Keaktifan

Menurut pandangan psikologi anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan pengarah. Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak hanya menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Thordike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat jika sering dipakai dan akan berkurang bahkan lenyap jika tidak pernah digunakan. Artinya dalam kegiatan belajar diperlukan adanya latihan-latihan dan pembiasaan agar apa yang dipelajari dapat diingat lebih lama. Semakin sering berlatih maka akan semakin paham. Hal ini juga sebagaimana yang dikemukakan oleh Mc.Keachie bahwa individu merupakan “manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu”. Dalam proses belajar, siswa harus menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik yang mudah diamati maupun kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan dan sebaginya. Kegiatan psikis misalnya menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan suatu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan lain sebagainya.

Keterlibatan Langsung/Pengalaman

Belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak hanya mengamati, tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia terlibat secara langsung dalam pembuatan, bukan hanya melihat bagaimana orang membuat tempe, apalagi hanya mendengar cerita bagaimana cara pembuatan tempe. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Dalam konteks ini, siswa belajar sambil bekerja, karena dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman serta dapat mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Hal ini juga sebagaimana yang di ungkapkan Jean Jacques Rousseau bahwa anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Pembelajaran itu akan lebih bermakna jika siswa “mengalami sendiri apa yang dipelajarinya” bukan “mengetahui” dari informasi yang disampaikan guru, sebagaimana yang dikemukakan Nurhadi bahwa siswa akan belajar dngan baik apabila yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Dari berbagai pandangan para ahli tersebut menunjukkan berapa pentingnya keterlibatan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung dan harus dilakukan oleh siswa secara aktif. Prinsip ini didasarkan pada asumsi bahwa para siswa dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dengan cara keterlibatan secara aktif dan proporsional, dibandingkan dengan bila mereka hanya melihat materi/konsep. Modus Pengalaman belajar adalah sebagai berikut: kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Hal ini menunjukkan bahwa jika guru mengajar dengan banyak ceramah, maka peserta didik akan mengingat hanya 20% karena mereka hanya mendengarkan. Sebaliknya, jika guru meminta peserta didik untuk melakukan sesuatu dan melaporkan nya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%. Hal ini ada kaitannya dengan pendapat yang dikemukakan oleh seorang filsof Cina Confocius, bahwa:

“              apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham. Dari kata-kata bijak ini kita dapat mengetahui betapa pentingnya keterlibatan langsung dalam pembelajaran.        ”

Pengulangan

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna. Dalam proses belajar, semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin ingat dan melekat pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya pengulangan “bahan yang belum begitu dikuasai serta mudah terlupakan” akan tetap tertanam dalam otak seseorang. Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca, tetapi juga bahkan lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari misalnya dengan membuat ringkasan. Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori koneksionisme-nya Thordike. Dalam teori koneksionisme, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon benar.

Tantangan

Teori medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam belajar berada dalam suatu medan. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan dalam mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuman yang tidak menyenangkan.

Balikan dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaiatan dengan balikan dan penguatan adalah teori belajar operant conditioning dari B.F. Skinner.Kunci dari teori ini adalah hukum effeknya Thordike, hubungan stimulus dan respon akan bertambah erat, jika disertai perasaan senang atau puas dan sebaliknya bisa lenyap jika disertai perasaan tidak senang. Artinya jika suatu perbuatan itu menimbulkan efek baik, maka perbuatan itu cenderung diulangi. Sebaliknya jika perbuatan itu menimbulkan efek negatif, maka cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi. Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apabila hasilnya baik akan menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja dari penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan, atau dengan kata lain adanya penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar. Siswa yang belajar sungguh-sungguh akan mendapat nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operan conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar yang lebih giat. Di sini nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat, inilah yang disebut penguatan negatif.

Perbedaan Individual

Siswa merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya. Guru harus memahami perbedaan siswa secara individu, agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu. Siswa akan berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Setiap siswa juga memiliki tempo perkembangan sendiri-sendiri, maka guru dapat memberi pelajaran sesuai dengan temponya masing-masing. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan kalsik yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Pengondisian klasik

 

Berkas:Ivan Pavlov (Nobel).png

Ivan Pavlov, ahli fisiolog dari Rusia yang memperkenalkan Teori Pengkondisian Klasik

Pengkondisian klasik adalah jenis pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru.[1] Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov[3].

Pengondisian operant

 

Pengkondisian operan adalah jenis penglondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman.[1] Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku.[1] Dengan demikian, penegasan akan memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi.[1]

Apa yang dilakukan Pavlov untuk pengkondisian klasik, oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner, dilakukan pengkondisian operan[4]. Skinner mengemukakan bahwa menciptakan konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut[4].

Pembelajaran sosial

 

Pembelajaran sosial adalah pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung.[5] Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari pengkondisian operan, teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi. Teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran.[5]

Metode pembentukan perilaku

 

Ketika seseorang mencoba untuk membentuk individu dengan membimbingnya selama pembelajaran yang dilakukan secara bertahap, orang tersebut sedang melakukan pembentukan perilaku.[1] Pembentukan perilaku adalah secara sistematis menegaskan setiap urutan langkah yang menggerakkan seorang individu lebih dekat terhadap respons yang diharapkan.[1] Terdapat empat cara pembentukan perilaku: melalui penegasan positif, penegasan negatif, hukuman, dan peniadaan.[1]

 

^ a b c d e f g h i j Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi Buku 1, 2007, Jakarta: Salemba Empat, hal. 69-79.

^ McGehee, W. (Inggris)”Are We Using All We Know About Training? Learning Theory and Training,” Personnel Psychology, Spring 1958, hal. 2.

^ Pavlov, I. P. (Inggris)The Work of the Digestive Glands, London: Charles Griffin, 1902, hal. 23-33

^ a b Skinner, B. F. Contingencies of Reinforcement, East Norwalk, CT: Appleton, 1971, hal. 100.

^ a b Bandura, A. (Inggris)Social Learning Theory, Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1977, hal. 37-38

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

MOTOR BAKAR

Motor bakar adalah suatu pesawat yang mengubah energy panas dari pembakaran bahan bakar di dalam silinder menjadi energy mekanik atau energy gerak putar pada poros. Motor bakar banyak dipakai pada kendaraan-kendaraan dari  daya yang kecil sampai daya yang besar. Misalnya mesin sepeda motor, mobil, mesin locomotip, mesin kapal laut, atau daya pembangkit listrik di suatu industry atau perusahaan listrik(PLTD).

Pada motor bensin, bahan bakar bensin dan udara diisap ke dalam silinder dan dikompresikan oleh suatu torak. Dengan perantaraan bunga api listrik, pada busi bahan bakar tersebut dibakar hingga terjadi tekanan dan temperature yang tinggi, dan mendesak torak untuk bergerak dengan tenaga yang kuat. Gerak torak ini diubah oleh engkol menjadi gerak putar pada poros.

Pada motor Diesel, udara murni diisap dan dikompresikan hingga tekanan dan temperature di dalam silinder menjadi tinggi, pada saat temperature tinggi inilah bahan bakar disemprotkan ke dalam silinder melalui injector (pengabut) hingga terjadi pembakaran yang merata. Tekanan pembakaran diteruskan oleh torak ke poros engkol menjadi gerak putar.

Gambar  5. Motor Bakar (Mobil)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GENERATOR

Image | Posted on by | Leave a comment

4 KOMPETENSI GURU

4 KOMPETENSI GURU
KOMPETENSI PEDAGOGIK

Pengertian
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan perkataan lain bahwa istilah pembelajaran dapat diberi arti sebagai kegiatan sistematik dan sengaja dilakukan oleh pendidik untuk membantu peserta didik agar tercapai tujuan pembelajaran. Kegiatan belajar terjadi pada diri siswa sebagai akibat dari kegiatan membelajarkan.
Pedagogik berasal dari bahasa Yunani yakni paedos yang artinya anak laki-laki, dan agogos yang artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harfiah membantu anak laki-laki zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya pergi ke sekolah (Uyoh Sadullah; http://www.rezaeryani.com http://groups.yahoo.com/group/rezaeryani). Menurut Prof. Dr. J. Hoogeveld (Belanda), pedagogik ialah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kea rah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya. Langeveld (1980) membedakan istilah pedagogik dengan istilah pedagogi. Pedagogik diartikannya sebagai ilmu pendidikan yang lebih menekankan pada pemikiran dan perenungan tentang pendidikan. Sedangkan istilah pedagogi artinya pendidikan yang lebih menekankan kepada praktek, yang menyangkut kegiatan mendidik, membimbing anak. Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakikat manusia, hakikat anak, hakikat tujuan pendidikan serta hakikat proses pendidikan.
Secara umum istilah pedagogik (pedagogi) dapat beri makna sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan ilmu mengajar untuk orang dewasa ialah andragogi. Dengan pengertian itu maka pedagogik adalah sebuah pendekatan pendidikan berdasarkan tinjauan psikologis anak. Pendekatan pedagogik muaranya adalah membantu siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam perkembangannya, pelaksanaan pembelajaran itu dapat menggunakan pendekatan kontinum, yaitu dimulai dari pendekatan pedagogi yang diikuti oleh pendekatan andragogi, atau sebaliknya yaitu dimulai dari pendekatan andragogi yang diikuti pedagogi, demikian pula daur selanjutnya; andragogi-pedagogi-andragogi, dan seterusnya.
Berdasarkan pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan pedagogik adalah ilmu tentang pendidikan anak yang ruang lingkupnya terbatas pada interaksi edukatif antara pendidik dengan siswa. Sedangkan kompetensi pedagaogik adalah sejumlah kemampuan guru yang berkaitan dengan ilmu dan seni mengajar siswa.
Ruang Lingkup Kompetensi Pedagogik
Rumusan kompetensi pedagogik di dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat 3 bahwa kompetensi ialah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi; (1) pemahaman terhadap peserta didik, (2) perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi hasil belajar, (4) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Yang dimaksudkan dengan kompetensi pedagogik ialah kemampuan dalam pengolahan pembelajaran peserta didik yang meliputi; a) pemahaman wawasan atau landaskan kependidikan, b) pemahaman terhadap peserta didik, c) pengembangan kurikulum/silabus, d) perancangan pembelajaran, e) pemanfaatan teknologi pembelajaran, f) evaluasi proses dan hasil belajar, g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Berdasarkan beberapa pengertian seperti tersebut di atas dengan kompetensi pedagogik maka guru mempunyai kemampuan-kemampuan sebagai berikut:1) Mengaktualisasikan landasan mengajar, 2) Menguasai ilmu mengajar (didaktik metodik), 3) Mengenal siswa, 4) Menguasai teori motivasi, 5) Mengenali lingkungan masyarakat, 6) Menguasai penyusunan kurikulum, 7) Menguasai teknik penyusunan RPP, 8) Menguasai pengetahuan evaluasi pembelajaran, dll.

Kompetensi guru ialah sejumlah kemampuan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tingkatan guru profesional. Kompetensi pedagogik antara lain:
(1) menguasai landasan mengajar, (2) menguasai ilmu mengajar (didaktik metodik), (3) mengenal siswa, (4) menguasai teori motivasi, (5) mengenal lingkungan masyarakat, (6) menguasai penyusunan kurikulum, (7) menguasai teknik penyusunan RPP, (8) menguasai pengetahuan evaluasi pembelajaran.

KOMPETENSI KEPRIBADIAN

Pengertian Kompetensi Kepribadian
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan guru yang lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan.
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan satu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar. Dan perbuatan baik sering dikatakan bahwa seseorang itu mempunyai kepribadian baik atau berakhlak mulia. Sebaliknya, bila seseorang melakukan sikap dan perbuatan yang tidak baik menurut pandangan masyarakat, maka dikatakan orang itu tidak mempunyai kepribadian baik atau tidak berakhlak mulia. Dengan kata lain, baik atau tidaknya citra seorang guru ditentukan oleh kepribadian. Lebih lagi bagi seorang guru, masalah kepribadian merupakan faktor yang menentukan terhadap keberhasilan melaksanakan tugas sebagai pendidik. Kepribadian dapat menentukan apakah guru menjadi pendidik dan pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan siswa terutama bagi siswa yang masih kecil dan mereka yang mengalami kegoncangan jiwa.
Kepribadian adalah unsur yang menentukan interaksi guru dengan siswa sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupan adalah figur yang paripurna. Itulah kesan guru sebagai sosok ideal. Guru adalah mitrasiswa dalam kebaikan. Dengan guru yang baik maka siswa pun akan menjadi baik. Tidak ada seorang guru pun yang bermaksud menjerumuskan siswanya ke lembah kenistaan. Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang siswa, karena ia yang memberikan santapan rohani dan pendidikan akhlak, memberikan jalan kebenaran. Maka menghormati guru berarti menghormati siswa, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak bangsa.
Pendidikan yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan masyarakat memerlukan kompetensi dalam arti luas yaitu standar kemampuan yang diperlukan untuk menggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam melaksanakan tugasnya. Kompetensi kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-niai (value), kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar. Berikut ini adalah beberapa pengertian tentang kompetensi kepribadian antara lain adalah sebagai berikut.
Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian di dalam Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3 ialah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Menurut Samani, Mukhlas (2008;6) secara rinci kompetensi kepribadian mencakup hal-hal sebagai berikut; a) berakhlak mulia, b) arif dan bijaksana, c) mantap, d) berwibawa, e) stabil, f) dewasa, g) jujur, h) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, i) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, j) mau siap mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
Menurut Djam’an Satori (2007;2.5) yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian ialah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpencar dalam perilaku sehari-hari.
Dari beberapa pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur. Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru. Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru harus dimaknai sebagai suatu wujud sosok manusia yang utuh.
Seseorang yang berstatus sebagai guru adakalanya tidak selamanya dapat menjaga wibawa dan citra sebagai guru di mata siswa dan masyarakat. Sehingga masih ada sebagian guru yang mencemarkan wibawa dan citra guru. Di media masa sering diberitakan tentang oknum-oknum guru yang melakukan satu tindakan asusila, asosial, dan amoral. Perbuatan itu tidak sepatutnya dilakukan oleh guru. Karenanya guru harus menjaga citra tersebut.
Profil guru ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, tidak membatasi tugas dan tanggung jawabnya tidak sebatas dinding sekolah. Masyarakat juga jangan hanya menuntut pengabdian guru, tetapi kesejahteraan guru pun perlu diperhatikan. Guru dengan kemuliaannya, dalam menjalankan tugas tidak mengenal lelah, hujan dan panas bukan rintangan bagi guru yang penuh dedikasi dan loyalitas untuk turun ke sekolah agar dapat bersatu jiwa dalam perpisahan raga dengan siswa. Raga guru dan siswa boleh berpisah, tapi jiwa keduanya tidak dapat dipisahkan (dwitunggal). Oleh karena itu dalam benak guru hanya ada satu kiat bagaimana mendidik siswa agar menjadi manusia dewasa susila yang cakap dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa di masa yang akan datang.
Posisi guru dan siswa boleh berbeda, tetapi keduanya tetap seiring dan satu tujuan. Seiring dalam arti kesamaan langakh dalam mencapai tujuan bersama siswa berusaha mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantar mereka ke depan pintu gerbang cita-cita. Itulah barangkali sikap guruyang tepat sebagai sosok pribadi yang mulia kewajiban guru adalah menciptakan khairunnas yakni manusia yang baik.
Sebagai manusia yang mempunyai kepribadian, maka kehadiran guru di tengah-tengah masyarakat adalah suatu kenyataan yang memang diperlukan oleh masyarakat. Posisi kehidupan guru yang demikian itu tentunya akan mendapat penilaian yang beragam dari dunia sekitarnya kadang kala disanjung dan ada pula disalahkan. Peran guru mendapat perhatian luas dari masyarakat, hal ini menuntut dedikasi yang tinggi dari orang-orang yang berkecimpung di dunia keguruan. Tidak berlebihan kiranya ada pendapat bahwa kegagalan dalam pembangunan bermula dari kegagalan membangun pendidikan. Tidak berlebihan kiranya ada pendapat bahwa kegagalan pembangunan bermula dari kegagalan pendidikan.

Peran Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian berperan menjadikan guru sebagai pembimbing, panutan, contoh, teladan, bagi siswa. Dengan kompetensi kepribadian yang dimilikinya maka guru bukan saja sebagai pendidik dan pengajar tapi juga sebagai tempat siswa dan masyarakat bercermin. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam sistem Amongnya yaitu guru harus “Ing ngarso sungtulodo, Ing madyo mangun karso, Tut Wuri handayani”.
Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, membangkitkan motivasi belajar siswa serta mendorong/memberikan motivasi dari belaang. Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat berkaca. Dalam relasi interpersonal antar guru dan siswa tercipta situasi pendidikan yang memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang menjadi contoh dan member contoh. Guru mampu menjadi orang yang mengerti diri siswa dengan segala problematiknya, guru juga harus mempunyai wibawa sehingga siswa segan terhadapnya. Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi kompetensi kepribadian guru adalah memberikan telada dan contoh dalam membimbing, mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motivasi belajar.
Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian itu adalah hal yang bersifat universal, yang artinya harus dimliki guru dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk individu (pribadi) yang mennjang terhadap keberhasilan tugas guru yang diembannya. Kompetensi kepribadian guru enurut Sanusi (1991) mencakup hal-hal sebagai berikut.
Pempilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseuruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dianut oleh seoran guru.
Penapiln upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya
Menurut Djam’an, dk 2007;2-6-2.10) kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai berikut
Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untukmeningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
Guru memiliki kelebihan ibandingkan yang lain. Oleh Karena itu perlu dikembangkan rasa prcaya pada diri sendiri dan tanggung jawab bahwa ia memiliki potensi yang besar dalam bidang keguruan dan mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya.
Guru senantiasa berhadapan dengan komunitas yang berberbeda dan beragam keunikan dari peserta didik dan masyarakatnya maka guru perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat.
Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam menumbuh kembangkan budaya berpikir kritis di masyarakat, saling menerima dalam perbedaan pendapat dan menyepakatinya untuk mecapai tujuan bersama maka dituntut seorang guru untuk bersikap demokratis dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai permaslahan yang ada di sekitarnya sehingga guru menjadi terbuka dan tidak mentup diri dari hal-hal yang berada di luar dirinya.
Menjadi guru yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan, hal ini menuntut kesabaran dalam mencapainya. Guru diharapkan dapat sabar dalam arti tekun dan ulet melaksaakan proses pendidikan tidak langsung dapat dirasakan saat itu tetapi membutuhkan proses yang panjang.
Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya.
Guru mapu menghayati tujuan-tujuan pendidikan baik secara nasional, kelembagaan, kurikuler sampai tujuan mata pelajaran yang diberikannya.
Hubungan manusiawi yaitu kemampuan guru untuk dapat berhubungan dengan orang lain atas dasar saling menghormati antara satu dengan yang lainnya.
Pemahaman diri, yaitu kemampuan untuk memahami berbagai aspek dirinya baik yang positif maupun yang negative.
10. Guru mampu melakukan perubahan-perubahan dalam mengembangkan profesinyasebagai innovator dan kreator.

Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari. Ha ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur. Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru. Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru harus dimaknai sebagai suatu wujud sosok manusia yang utuh.
Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, serta membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya.

KOMPETENSI PROFESIONAL

Pengertian Kompetensi Profesional
Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi di sini meliputi pengatahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Kompetensi profesional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang guru. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005, pada pasal 28 ayat 3 yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan menurut Mukhlas Samani (2008;6) yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah kemampuan menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi dan atau seni yang diampunya meliputi penguasaan;
Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya.
Konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, dan/atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampunya.
Bagi guru yang merupakan tenaga profesional di bidang kependidikan dalam kaitannya dengan accountability, bukan berarti tugasnya menjadi ringan, tetapi justru lebih berat dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kualifikasi kemampuan yang lebih memadai. Secara garis besar ada tiga tingkatan kualifikasi profesional guru sebagai tenaga kependidikan. Yang pertama adalah tingkatan capability personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan kecakapan dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai, sehingga mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif. Tingkatan kedua adalah guru sebagai innovator, yakni sebagai tenaga kependidikan yang memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan reformasi. Para guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan kterampilan serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan dan sekaligus merupakan penyebar ide pembaharuan yang efektif. Tingkatan ketiga adalah guru sebagai visioner. Selain menghayati kualifikasi yang pertama dan kedua guru harus memiliki visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya. Guru harus mampu dan mau melihat jauh ke depan dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai suatu sistem. Guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian baik dalam materi maupun metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual.
Dengan kata lain pengertian guru profesional adalah orang yang punya kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru. Guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih serta punya pengalaman bidang keguruan. Seorang guru profesional dituntut dengan sejumlah persyaratan minimal antara lain; memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki kompetensi kemampuan berkomunikasi dengan siswanya, mempunyai jiwa kreatif dan produktif, mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya dan selalu melakukan pengembangan diri secara terus-menerus (continous improvement) melalui organisasi profesi, buku, seminar, dan semacamnya.
Sementara itu guru profesional mempunyai sikap dan sifat terpuji adalah; (1) bersikap adil; (2) percaya dan suka kepada siswanya; (3) sabar dan rela berkorban; (4) memiliki wibawa di hadapan peserta didik; (5) penggembira; (6) bersikap baik terhadap guru-guru lainnya; (7) bersikap baik terhadap masyarakat; (8) benar-benar menguasai mata pelajarannya; (9) suka dengan mata pelajaran yang diberikannya; dan (10) berpengetahuan luas (Ngalim Purwanto, 2002). Dengan profesionalisme maka masa depan guru mempunyai peran ganda yakni sebagai pendidi (teacher), pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer (learning manager).
Jika profesionalisme keguruan itu dikaitkan dengan akuntabilitas public, profesi bukanlah hal yang ringan, melainkan sesuatu yang mengharuskan pelayanan di tingkat kualifikasi profesional yang lebih memadai. Secara sederhana kualifikasi profesional kependidikan guru mencakup hal-hal sebagai berikut.
Kapabilitas personal (person capability), artinya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif.
Guru sebagai innovator yang berarti memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan informasi. Guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan dan sekaligus penyebar ide pembaharuan yang efektif.
Guru sebagai developer yang berarti ia harus memiliki visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya. Guru harus mampu dan mau melihat jauh ke depan (the future thinking) dalam menjawab tantangan-tantangan zaman yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai sebuah sistem.

Ruang Lingkup Kompetensi Profesional
Menurut Cooper ada 4 komponen kompetensi profesional, yaitu; (1) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (2) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, (3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, dan (4) mempunyai keterampilan dalam teknikl mengajar. Menurut (Johnson, 1980) kompetensi profesional mencakup: (1) penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan yang diajarkan dari bahan yang diajarkannya itu; (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; dan (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan pembelajaran siswa. Menurut Depdikbud, (1980) ada 10 kemampuan dasar guru, yaitu; (1) penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya, (2) pengelolaan program belajar mengajar, (3) pengelolaan kelas, (4) penggunaan media dan sumber pembelajaran, (5) penguasaan landasan-landasan kependidikan, (6) pengelolaan interaksi belajar mengajar, (7) penilaian prestasi siswa, (8) pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, (9) pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah, serta (10) pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka banyak kemampuan profesional yang harus dimiliki guru antara lain adalah sebagai berikut.
Kemampuan penguasaan materi/bahan bidang studi. Penguasaaan ini menjadi landasan pokok untuk keterampilan mengajar.
Kemampuan mengelola program pembelajaran yang mencakup merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar, merumuskan silabus, tujuan pembelajaran, kemampuan menggunakan metode/model mengajar, kemampuan menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, kemampuan mengenal potensi (entry behavior) peserta didik, serta kemampuan merencanakan dan melaksanakan pengajaran redmedial.
Kemampuan mengelola kelas. Kemampuan ini antara lain adalah; a) mengatur tata ruang kelas, b) menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif.
Kemampuan mengelola dan penggunaan media serta sumber belajar. Kemampuan ini pada dasarnya merupakan kemampuan menciptakan kondisi belajar yang merangsang agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Termasuk dalam kemampuan ini adalah mampu membuat alat bantu pembelajaran, menggunakan dan mengelola laboratorium, menggunakan perpustakaan.
Kemampuan penguasaan tentang landasan kependidikan. Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan berkaitan dengan kegiatan sebagai berikut; a) mempelajari konsep, landasan dan asas kependidikan, b) mengenal fungsi sekolah sebagai lembaga sosial, c) mengenali kemampuan dan karakteristik fisik dan psikologis peserta didik.
Kemampuan menilai prestasi belajar peserta didik. Yang dimaksud dengan kemampuan ini menilai prestasi belajar peserta didik atau siswa adalah kemampuan mengukur perubahan tingkah laku siswa dan kemampuan mengukur kemahiran dirinya dalam mengajar dan dalam membuat program. Dalam setiap pekerjaan evaluasi ada tiga sasaran yang hendak dicapai, yaitu:
a) Prestasi belajar berupa pernyataan dalam bentuk angka dan tingkah laku,
b) Prestasi mengajar berupa pernyataan lingkungan yang mengamatinya melalui penghargaan atas prestasi yang dicapainya, serta
c) Keunggulan program yang dibuat guru, karena relevan dengan kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.
Kemampuan memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan di sekolah. Di samping melaksanakan proses belajar mengajar, menurut Nawawi (1989), diharapkan guru membantu kepala sekolah dalam menghadapi berbagai kegiatan pendidikan lainnya yang digariskan dalam kurikulum, guru perlu memahami pula prinsip-prinsip dasar tentang organisasi dan pengelolaan sekolah, bimbingan dan penyuluhan termasuk bimbingan karier, program kokurikuler dan ekstrakurikuler, perpustakaan sekolah serta hal-hal yang terkait.
Kemampuan menguasai metode berpikir. Metode dan pendekatan setiap bidang studi berbeda-beda.
Kemampuan meningkatkan dan menjalankan misi profesional. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus terus menerus mengembangkan dirinya agar wawasannya menjadi luas sehingga dapat mengikuti perubahan dan perkembangan profesinya yang didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.
10. Kemampuan/terampil memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik. Bantuan dan bimbingan kepada peserta didik sangat diperlukan agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, guru perlu memahami berbagai teknik bimbingan belajar dan dapat memilihnya dengan tepat untuk membantu para peserta didik.
11. Kemampuan memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan. Setiap guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami/melakukan penelitian sehingga mereka perlu memiliki wawasan yang memadai tentang prinsip-prinsip dasar dan cara-cara melaksanakan penelitian pendidikan. Khususnya penelitian tindakan kelas (classroom action research).
12. Kemampuan memahami karakteristik peserta didik. Guru dituntut memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ciri-ciri dan perkembangan peserta didik, lalu menyesuaikan bahan yang akan diajarkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
13. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah. Di samping kegiatan akademis, guru harus mampu menyelenggarakan administrasi sekolah.
14. Kemampuan memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan. Seorang guru diharapkan berperan sebagai inovator atau agen perubahan maka guru perlu memiliki wawasan yang memadai mengenai berbagai inovasi dan teknologi pendidikan yang pernah dan mungkin dikembangkan pada jenjang pendidikan. Wawasan ini perlu dimiliki oleh setiap guru agar dalam melaksanakan tugasnya mereka tidak cenderung bertindak secara rutin, tetapi selalu memikirkan cara-cara baru yang mungkin dapat diterapkan di sekolah, yang sekaligus dapat meningkatkan kegairahan kerja mereka.
15. Kemampuan/berani mengambil keputusan. Guru harus memiliki kemampuan mengambil keputusan pendidikan agar ia tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian. Semua tindakannya akan memberikan dampak tersendiri bagi peserta didik sehingga apabila guru tidak berani mengambil tindakan kependidikan, siswa akan menjadi korban kebimbangan.
16. Kemampuan memahami kurikulum dan perkembangannya. Salah satu tugas guru adalah melaksanakan kurikulum dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, guru perlu memahami konsep-konsep dasar dan langkah-langkah pokok dalam perkembangan kurikulum.
17. Kemampuan bekerja berencana dan terprogram. Guru dituntut untuk dapat bekerja teratur, tahap demi tahap, tanpa menghilangkan kreativitasnya. Rencana dan program tersebut akan menjadi pola kerja guru sehingga tahap pencapaian pendidikan dapat dinilai dan dijadikan umpan balik bagi kelanjutan peningkatan tahap pendidikan. Keteraturan dan keterlibatan kerja ini pun akan memberikan warna dalam proses pendidikan atau proses belajar mengajar.
18. Kemampuan menggunakan waktu secara tepat. Makna tepat waktu di sini bukan sekedar masuk dan keluar kelas tepat pada waktunya, melainkan juga guru harus pandai membuat program kegiatan dengan durasi dan frekuensi yang tepat sehingga tidak membosankan.

Kompetensi profesional guru adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan profesi yang menuntut berbagai keahlian di bidang pendidikan atau keguruan. Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar guru dalam pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, bidang studi yang dibinanya, sikap yang tepat tentang lingkungan PBM dan mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar.

KOMPETENSI SOSIAL

Pengertian Kompetensi Sosial
Yang dimaksud dengan kompetensi sosial di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3, ialah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul seacara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Menurut Achmad Sanusi (1991) mengungkapkan kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.
Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada siswa, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan berinteraksi sosial. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma agama dan norma moral.
Ruang Lingkup Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru. Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan. Mengajar dan mendidik adalah tugas kemanusiaan manusia. Guru harus mempunyai kompetensi sosial karena guru adalah penceramah jaman.
Menurut Djam’an Satori (2007), kompetensi sosial adalah sebagai berikut.
Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik.
Bersikap simpatik.
Dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah.
Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.
Memahami dunia sekitarnya (lingkungan).
Sedangkan menurut Mukhlas Samani (2008:6) yang dimaksud dengan kompetensi sosial ialah kemampuan individu sebagai bagian masyarakat yang mencakup kemampuan untuk;
Berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat.
Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.
Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik.
Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku.
Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
Berdasarkan pengertian dan ruang lingkup kompetensi sosial seperti tersebut di atas maka inti dari pada kompetensi sosial itu adalah kemampuan guru melakukan interaksi sosial melalui komunikasi. Guru dituntut berkomunikasi dengan sesame guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar, dll. Jadi guru dituntut mengenal banyak kelompok sosial seperti kelompok bermain, kelompok kerjasama, alim ulama, pengajian, remaja, dll.
Pengertian interaksi sosial ini amat berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat, termasuk masalah pembelajaran. Tanpa interaksi sosial mungkin terjadi kehidupan bersama yang terwujud dalam pergaulan. Pergaulan hidup memang terjadi apabila para anggota masyarakat bekerja sama, saling berbicara, saling berbagi pengalaman, bahkan juga saling besaing dan berselisih. Interaksi sosial merupakan dasar proses sosial sebagai satu pengertian yang mengacu kepada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Secara umum dapat dikatakan bahwa, untuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Dan interaksi sosial merupaka syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.
Suatu interaksi sosial tidak mungkin berlangsung tanpa terjadinya kontak sosial (sosial contact) dan komunikasi. Apabila kita berbicara dengan seseorang, itu berarti ada kontak antara kita dengan orang itu. Berbicara itu bisa secara langsung, bisa melalui telepon, surat, radio, dan sebagainya. Dalam kehidupan keluarga di rumah, kontak sosial hamper selalu terjadi di antara sesame anggota keluarga. Kontak sosial dalam keluarga ini bisa terjadi antara seorang anggota dengan beberapa atau semua anggota keluarga yang lain, sebagaimana halnya antara seorang anggota masyarakat dengan beberapa atau banyak anggota masyarakat yang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat dapat juga dijumpai kontak antara kelompok yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain.
Dalam arsitektur di Indonesia (Irawan Maryono dan L. Edison Silalahi, 1985) disebutkan bahwa ada empat bentuk interaksi sosial antara lain adalah; 1) kerja sama (co-operation), 2) persaingan (competition), 3) pertentangan, 4) akomodasi. Co-operation adalah kerja sama antara individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat guna mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama pula. Bentuk lain yang dapat digolongkan sebagai kerja sama antara lain adalah asimilasi dan alkulurasi di dalam kebudayaan. Asimilasi merupakan proses sosial atau proses masyarakat menuju satu perubahan yang positif karena adanya perpaduan budaya antar kelompok sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan alkulturasi adalah penggabungan dua unsur kebudayaan atau lebih menjadi kebudayaan baru namun unsur aslinya tidak hilang. Persaingan ialah salah satu bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh antar individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat. Mereka bersaing untuk memperoleh atau mencapai tujuan tertentu melalui bidang-bidang kehidupan tanpa kekerasan dan tanpa ancaman. Sedangkan pertentangan adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh antar individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat guna mencapai tujuan tertentu dengan kekerasan dan ancaman. Akomodasi sebagai salah satu bentuk interaksi sosial yang berada dalam keseimbangan dan masing-masing kelompok masyarakat melebur untuk membentuk norma-norma, aturan, nilai (adat) baru yang berlaku dan disepakati dalam masyarakat setempat. Adapun tujuan adanya akomodasi ini antara lain adalah sebagai berikut.
Mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia dalam masyarakat akibat adanya perbedaan paham.
Mencegah meledaknya atau munculnya satu konflik untuk sementara waktu.
Sebagai wahana melakukan kerja sama antara orang atau kelompok manusia dalam masyarakat.
Mendorong terbangunnya peleburan (pembauran) antara kelompok yang terpisah atau bertentangan.
Interaksi sosial melalui proses pembelajaran sangat ditentukan oleh guru, siswa, segenap tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. Pada pembicaraan antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa mungkin saja terjadi secara timbale balik. Dalam interaksi sosial yang terpenting adalah membangun komunikasi, yaitu bahwa seseorang memberikan penafsiran pada perilaku orang lain, baik berwujud pembicaraan, gerak-gerik, ataupun sikap.
Di dalam kelas berlangsung interaksi sosial; ada yang sifatnya bekerja sama (co-operation), persaingan (competition), pertentangan, akomodasi. Pertentangan dapat menjurus kepada bentrokan fisik. Sebagai guru, maka saudaa berusaha mendamaikan. Dan mereka pada akhirnya berdamai juga, tetapi perdamaian itu rupa-rupanya hanya penyelesaian yang diterima untuk sementara waktu saja.
Di mata masyarakat, guru adalah orang yang mendidik, mengajar, dan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswa di sekolah, mesjid, di rumah, atau di tempat lainnya. Guru mengemban tanggung jawab tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Guru melakukan pembinaan tidak hanya secara kelompok, tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut agar guru selalu memperhatikan tingkah laku, sikap, dan perbuatan siswanya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi di luar sekolah sekalipun.
Fungsi Kompetensi Sosial
Masyarakat dalam proses pembangunan sekarang ini menganggap guru sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan yang cukup luas, yang mau ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan. Guru diharapkan menjadi pelopor di dalam pelaksanaan pembangunan. Guru perlu menyadari posisinya di tengah-tengah masyarakat berperan sangat penting, yakni sebagai;1) motivator dan innovator dalam pembangunan pendidikan, 2) perintis dan pelopor pendidikan. 3) peneliti dan pengkaji ilmu pengetahuan, 4) pengabdian.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja di lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Peran yang dibawa guru dalam masyarakat berbeda dengan profesi lain. Oleh karena itu, perhatian yang diberikan masyarakat terhadap guru pun berbeda dan ada kekhususan terutama adanya tuntutan untuk menjadi pelopor pembangunan di daerah tempat guru tinggal. Beberapa kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru antara lain; terampil berkomunikasi, bersikap simpatik, dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah, pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan, dan memahami dunia sekitarnya (lingkungan).

DAFTAR PUSTAKA

Djam’an, Satori, dkk, 2007. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mulyasa, E, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, cetakan keempat.
Saudagar, Fachruddin, dk, 2009. Pengembangan Profesionalitas Guru. Jakarta:
Gaung Persada Press.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Teknik Sepeda Motor

Dengan telah diundangkannya kurikulum Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) 2004, maka berarti pendidikan kejuruan di Indonesia
memasuki paradigma baru. Perbedaan yang prinsipil dengan kurikulum
yang lama ialah; kalau kurikulum yang lama pelajaran praktek diberikan
untuk menunjang teori, maka pada kurikulum yang baru pelajaran teori
menunjang praktek sehingga para lulusan mampu menguasai kompetensi
yang relevan dengan dunia kerja. Kolaborasi yang saling menguntungkan
antara sekolah kejuruan dan dunia kerja bidang otomotif mutlak
diperlukan.
Salah satu masalah yang sejak dulu belum terpecahkan adalah
kurangnya buku-buku pelajaran yang secara langsung dapat
dipergunakan oleh para siswa. Buku ini disusun sesuai dengan
kebutuhan kurikulum SMK Tahun 2004, Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) dan serta KTSP, dalam bidang Teknologi Sepeda Motor pada
jurusan Otomotif. Sesuai dengan prinsip KBK, maka tidak perlu dihindari
bahwa substansi isi pelajaran tidak lepas dari kenyataan dunia teknologi
sepeda motor di Indonesia yang didmonasi oleh Honda, Yamaha, Suzuki
dan Kawasaki, di samping beberapa merek lain seperti Vespa dan lainlainnya.
Isi buku ini terutama dimaksudkan untuk membantu para siswa
dalam mempelajari dasar-dasar konstruksi dan proses motor bakar.
Uraian sudah diupayakan sesederhana mungkin sehingga mudah untuk
dipahami.
Sebelum memulai bekerja atau melakukan praktek motor, maka
seseorang haruslah terlebih dahulu mengenal dan memahami
keselamatan keja, fungsi serta bagaimana cara bekerja dengan peralatan
dan komponen sepeda motor. Oleh karena itu, maka buku ini juga dapat
dipakai pada kursus-kursus dan bahkan para peminat sepeda motor
sebagai acuanl untuk hobi atau dapat menjadi teknisi yang profesional.
Dalam buku yang sederhana ini tentu saja tidak dapat memenuhi
seluruh konsepdanprinsip berbagai merek sepeda motor yang sangat
bervariasi, model dan tipe. Prinsip kerja dan teknologinya umumnya tidak
banyak berbeda. Untuk keperluan khusus, para peminat dianjurkan
merujuk pada buku petunjuk yang dikeluarkan oleh masing-masing
merek, seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki dan lainnya. Kemajuan

teknologi yang sangat cepat menyebabkan perubahan dan inovasi yang
terus menerus terutama pada sistem kelistrikan elektronika dan dan
sistem pembakaran.
Untuk mewujudkan buku ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada banyak pihak, Direktorat Pembinaan SMK, para staf proyek
penerbitan buku, Rektor UNP, Dekan FT UNP dan Ketua Jurusan Teknik
Otomotif atas dukungan moral dan finansial demi terbitnya karya ini.
Selanjutnya, Rahmadani, ST (Penyunting) dan Eko Indrawan, ST yang
telah menyediakan waktu dan tenaga dan melakukan editing bahasa dan
kelayakan isi. Semoga segala bentuk bantuan dan jerih payah yang
diberikan merupakan amal dan ibadah yang mendapat balasan yang
layak dari Allah swt. Penulis mengucapkan penghargaan dan terima kasih
kepada otoritas pemegang merek Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki
dan sumber lainnya, atas izin pengambilan bahan, baik berupa gambar
maupun teknologinya. Semuanya kita lakukan demi kemajuan pendidikan
dan mempersiapkan generasi penerus untuk pembangunan nasional
dalam bidang teknologi. Dengan demikian, para lulusan SMK tidak
mengalami kesulitan dalam penyesuaian antara apa yang dipelajari di
sekolah dengan apa yang ditemukan di dunia kerja.
Akhirnya “tidak ada gading yang tak retak”, maka kritik dan saran
terutama dari rekan-rekan guru, instruktur dan pembaca, kami tunggu
dengan segala senang hati.

Tim Penulis,

Posted in Uncategorized | Leave a comment